Bau Seperti Telur Busuk Sering Muncul pada Sore hingga Malam

0

Gayam – Warga RT 04 RW 01, Dusun Ledok, Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, mengeluhkan bau busuk yang diduga ditimbulkan dari aktivitas pembakaran gas suar (flaring) tapak sumur (well pad) B lapangan minyak dan gas bumi (migas) Banyu Urip Blok Cepu di Bojonegoro.

Priyanto, 65, warga setempat, menuturkan, bau menyengat seperti telur busuk sering muncul pada sore hingga malam. Bau busuk itu, kata dia, muncul pada pukul 17.00 WIB, pukul 18.00 WIB, pukul 19.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB.

“Bau menyengat seperti telur busuk itu sering muncul pada saat-saat tertentu terutama pada sore dan malam hari,” ujar Priyanto yang sedang menjemur kacang hijau di halaman rumahnya.

Rumah Priyanto lokasinya hanya berjarak sekitar 500 meter dari lokasi pembakaran gas suar tapak sumur B lapangan Banyu Urip Blok Cepu di Bojonegoro. Selain menimbulkan bau busuk, kata Priyanto, aktivitas pembakaran gas suar itu juga menimbulkan suhu yang panas. Bahkan, kata dia, pada malam hari ia dan istrinya, Sayemiyati, kesulitan tidur lantaran hawa yang panas dan kondisi malam yang terang benderang.

“Kalau malam hawanya sangat gerah dan panas. Sulit sekali tidur,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Parti, 60, dan Ngasipan, 62, warga setempat. Mereka mengatakan, bau busuk itu sering timbul pada pagi hari dan malam hari. Pada pagi hari, kata dia, biasanya muncul sekitar pukul 07.00 WIB dan pukul 09.00 WIB.

Parti menuturkan, bau menyengat seperti solar itu sering menimbulkan pusing dan mual. Bahkan, kata dia, ada beberapa warga yang muntah-muntah lantaran mencium bau menyengat yang diduga dari aktivitas pembakaran gas suar tersebut.

Sementara itu menurut salah satu sumber di ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), selaku pengelola lapangan migas Banyu Urip Blok Cepu, menyatakan, EMCL sudah menurunkan tim untuk memeriksa timbulnya bau menyengat yang diduga berasal dari kegiatan pembakaran gas suar bakar tapak sumur B lapangan Banyu Urip Blok Cepu. Sejauh ini, kata dia, bau yang menyengat itu tidak sampai mengganggu kesehatan masyarakat sekitar. Selain itu, bau gas itu tidak sering terjadi.

Sumber itu menjelaskan, bau menyengat itu timbul karena kegiatan pembakaran gas suar itu terkadang membuang gas melalui katup yang membuka dan menutup secara otomatis. Bau menyengat itu bisa timbul di lokasi yang berbeda karena terbawa oleh embusan angin.

Sementara itu, warga di sekitar lokasi kegiatan pembakaran gas suar juga telah mendapatkan kompensasi berupa beras sejak lima bulan terakhir. Pada bulan pertama dan kedua warga menerima bantuan beras sebanyak 10 kilogram per kepala keluarga. Kemudian, pada bulan ketiga hingga kelima mendapatkan bantuan beras sebanyak 30 kilogram per kepala keluarga.

Comments

comments

Share.

About Author