Kam. Agu 18th, 2022

Ahli Perakit Bom dan Terlibat Perampokan BRI di Tangerang

Kota – Siapa sebenarnya Azmi Fuadi? Terpidana teroris yang dilimpahkan dari Rutan Mako Brimob Kelapa dua ke Lapas Bojonegoro pada Kamis (17/09) siang tadi. Lalu apa saja amaliah-amaliah yang telah dia lakukan bersama jaringannya di sejumlah kota di Indonesia?

Redaksi beritabojonegoro.com mendapatkan salinan hasil wawancara dengan terpidana yang disiarkan satu stasiun televisi swasta nasional pada 7 Januari 2014 lalu.

Dalam salinan tertulis itu disebutkan bahwa Azmi Fuadi alias Anton alias Septi dilahirkan di Bandung pada 23 tahun lalu, tepatnya 13 September 1992. Dia lulusan Pondok Pesantren Darussyahada tahun 2009. Pernah ikut dalam jaringan Mujahidin Kota dan Jaringan Deko (Dede Kodrat asal Poso). Lalu, pada akhir perjalanannya sebelum tertangkap, dia bergabung dengan sebagian anggota jaringan Abu Roban.

Azmi Fuadi alias Anton alias Septi tertangkap di Banyumas pada 30 Desember 2013, karena tersangkut kasus Bom Beji. Dia yang membocorkan safe house kelompok teroris  di Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten.

Bersama kelompoknya dia telah melakukan amaliah-amaliah di kota-kota di Indonesia. Tujuannya adalah meninggikan kalimat tauhid di muka bumi ini. Berikut adalah serangkaian kegiatan yang telah dilakukan Azmi Fuadi alias Anton.

Amaliah pertama:  Terlibat dalam Bom Beji, Anton ikut meracik bom bersama Anwar. Ditujukan untuk amaliah yang akan dilaksanakan Thoriq berupa amaliah Istisyaidah. Yakni, membunuh anshoru thogut dan personal-personal kafir di Indonesia, supaya mereka jera dan tobat dari kekafiran.

Amaliah kedua:  Terlibat  dalam membuat bom, yang dibawa oleh Salim alias Diaz dan dilemparkan ke Pos Polisi di Mitra Batik Tasikmalaya. Dia meyakini untuk membalas saudara-saudaranya yang ditembak, yang telah dibunuh oleh para thogut Indonesia di Cigondewah, Bandung.

Amaliah ketiga: Terlibat dalam perencanaan penembakan polisi di Cirendeu. Polisi tersebut tidak meninggal, pelakunya adalah  Nurul Haq, Fauzy serta Dayat dan Hendi dengan tujuan membunuh tentara-tentara  thogut Indonesia. Supaya masyarakat bisa faham dan bisa berfikir bahwa personal thogut ini adalah kafir karena itu dia menembaknya.

Amaliah keempat: Menembak polisi di Ciputat, pelakunya diketahuinya Nurul Haq, Fauzy serta Dayat dan Hendi. Anton tidak ikut.

Amaliah kelima:  Kelompok melakukan pembomam Polsek Rajapolah, Tasikmalaya.  Perakit bom Anton, Nurul Haq dan Hendi, Fauzy dan Anton. Hendi dan Nurul Haq dari Jakarta ke Tasikmalaya untuk melakukan amaliah pemboman Polsek Rajapolah, tujuan mengirhab negara kafir Indonesia.

Amaliah keenam: Pemboman Vihara Ekayana. Dilakukan oleh Dayat dan  Fauzy sebagai pemencet tombol bom. Sedangkan, Anton, NH, dan Hendi sebagai perakit bom.  Ini untuk membela ikhwanul-ikhwanul di Myanmar, karena telah dizalimi oleh umat Budha dengan tidak berperikemanusiaan.

Amaliah ketujuh: Penembakan polisi di Pondok Aren. Anton tidak ikut, para pelaku  adalah  Nurul Haq, Fauzy, Hendi dan Dayat. Tujuan untuk untuk memberantas thogut, meneror thogut Indonesia.

Amaliah kedelapan:  Melakukan amaliah fa’i  merampok Bank Rakyat Indonesia (BRI) Panongan, Tanggerang. Tujuannya, karena BRI adalah logistik pemerintahan kafir jadi dikatakannya halal untuk dana amaliah-amaliah. Pelaku, Nurul Haq, Dayat, Hendi, Fauzi, Rizal dan Edo. Sedangkan Anton bertindak sebagai  pemantau atau surveiyor.

Keenam orang tersebut masuk ke dalam BRI dan mendapat hasil Rp 310 juta. Uang sebagian dibagi tiap personal mendapat Rp 9 juta dan sisanya untuk membuat  paspor Rp 10 juta per orang dan tiket pesawat Rp 20 juta, untuk rencana hijrah ke Suriah, dimana di sana  jihad dikatakannya mendapat prioritas.

Kemudian sisa uang akan dibagi  kepada isteri-isteri mereka yang  tertangkap atau tertembak, atau yang masih berjihad di bumi ini, terutama yang berada di Poso di bawah jaringan Santoso. (humas)

Foto: Enam dari tujuh kelompok Teror Ciputat (Foto  id.berita.yahoo.com)

Comments

comments