Rab. Nov 20th, 2019

Masinis Mengaku Sudah Bunyikan Klakson Berkali-Kali

Kota – Hingga saat ini, penyidik Satlantas Polres Bojonegoro terus melakukan pendalaman pada kasus kecelakaan di perlintasan kereta api Jetak, antara mobil Elf dengan kereta api barang, yang membawa korban jiwa 4 penumpang Elf pada Minggu, 18 Oktober 2015 lalu.

Setelah menghadirkan dan memeriksa penjaga palang pintu lintasan Jetak, Lilik Purwanto, dan sopir mobil Elf, Ali Parsim, Rabu (21/10) kemarin giliran masinis kereta api barang, Agus SP, yang diambil keterangannya oleh polisi.

Jumat (23/10), terkait hasil pemeriksaan, Masinis Agus SP, mengatakan, dirinya membawa kereta api barang nomor CC 2061381 dari Surabaya tujuan Jakarta sudah sesuai prosedur perjalanan kereta. Selepas dari Stasiun Bojonegoro, sesuai prosedur, dia telah membunyikan klakson berkali-kali.

“Maksud dari membunyikan klakson itu adalah meminta perhatian pengguna jalan yang hendak melintas agar memprioritaskan kereta api lewat,” ujarnya.

Sebelum terjadi kecelakaan, dia mengaku sempat melihat mobil Elf warna merah bergerak melintas rel. Dirinya pun kembali membunyikan klakson agar mobil Elf berhenti. Dia juga berusaha mengurangi kecepatan kereta. Tapi rupanya, malang tak bisa ditolak, untung tak bisa diraih, terjadilah tabrakan itu.  Benturan cukup keras, dirinya dalam loko kereta sempat terguncang.

“Saya tidak tahu ada korban jiwa. Karena kereta api harus tetap melanjutkan perjalanan hingga stasiun terakhir. Ini juga prosedur perjalanan kereta,” imbuhnya.

Agus menambahkan, sesuai peraturan lalu lintas perkeretaapian dimana pun tempat perlintasan kereta api, ada atau tidak ada palang pintu, setiap pelintas rel, baik motor atau tidak bermotor, harus berhenti dulu. Diperintahkan tengok kanan dan tengok kiri, melihat apakah ada kereta akan lewat atau tidak.

“Kalau situasi sudah aman, baru melintas rel. Rambu-rambu ini kan sudah dipasang di setiap perlintasan kereta api. Sebagai pengingat bagi pelintas rel,” terang Agus.

Kapolres Bojonegoro Ajun Komisaris Besar Polisi Hendri Fiuser SIK MHum, mengungkapkan, perkara kecelakaan tersebut masih didalami. Untuk menentukan tersangkanya nunggu selesainya pemeriksaan saksi-saksi. Baru kemudian diadakan gelar perkara untuk menentukan tersangkanya.

“Dari hasil pemeriksaan masinisnya, dapat disimpulkan siapa tersangkanya. Saat ini kami masih memeriksa saksi-saksi, setelah itu baru gelar perkara guna menentukan siapa tersangkanya itu,” ujar Kapolres.

Hingga kini, penyidik masih melakukan pendalaman kasus tabrakan yang tergolong kasus kecelakaan menonjol tersebut. Tiga korban penumpang mobil elf tewas di lokasi kejadian yakni Muhammad Chamdan (47), warga Dusun Petak, Desa Beged RT 07 RW 04, Kecamatan Gayam, Ali Nurhidayat, warga Dusun Bandar, Desa Batokan, Kecamatan Kasiman, dan Suyitno (55), warga Kelurahan/Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora.

Terakhir, satu korban yang mengalami koma yaitu Muktazam (40), akhirnya juga meninggal saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Bhayangkara Wahyu Tetuko Bojonegoro. Korban mengalami luka berat di kepala akibat benturan.

Sementara itu, korban luka lainnya masih menjalani perawatan yakni Ruli Khoirun Mafluah (39), dan anaknya, Sania Anadel Fadilah (12), warga Dusun Petak, Desa Beged, Kecamatan Gayam. Keduanya istri dan anak dari korban meninggal, Muhammad Chamdan, guru SMP Negeri 1 Padangan. Kemudian, korban lainnya yang menjalani perawatan yaitu Alfi Afifatul Rohman (3), Wijiyanto (54), dan Siti Rusiyawati (36). (humas)

*) Foto dari harapanrakyat.com

Comments

comments