Jum. Jul 30th, 2021

Matangkan Kesiapan, Gelar Gladi Bersih di Kahyangan Api

Kota – Sudah menjadi tradisi, sebagai puncak peringatan HJB, juga yang ke 338 ini, diselenggarakan pengambilan api abadi dari Kahyangan Api pada Senin besok (19/10) oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Nah, agar proses berjalan lancar, hari ini, Sabtu (17/10), diadakan gladi bersih di lokasi bersemayamnya api abadi itu. Gladi dimulai pada pukul 09.00 WIB tadi.

Api dari Kahyangan Api itu nantinya kemudian akan diarak dari Desa terdekat, Bali Desa Ngunut (Dander) sampai ke depan Gedung Bakorwil di Jalan Pahlawan, Bojonegoro Kota. Kemudian api abadi itu akan disemayamkan di pendapa Malowopati Bojonegoro.

Juru Kunci Kayangan Api, Ki Djuli, di sela-sela gladi mengatakan bahwa pengambilan api ini memang sesuai tradisi. Namun, sebelum pengambilan api juga dilaksanakan beberapa ritual dan amalan bersifat mistis oleh dirinya selaku juru kunci.

“Sebelum pengambilan api, memang saya harus meminta izin terlebih dahulu. Ritual ini bersifat pribadi. Diharapkan prosesi pengambilan berjalan lancar,” katanya saat ditemui BBC, sebutan BeritaBojonegoro.com, siang tadi di lokasi.

Gladi bersih ini meliputi segalanya, dari ritual sebelum pengambilan api hingga proses persemayaman api di Pendapa Malowopati. Ritual sebelum pengambilan api berupa pemberian sesaji ke nyala api, perapalan mantra dan doa, tari-tarian dan gending-gending Jawa oleh seniman setempat.

Persiapan iring-iringan pembawa api juga dimatangkan. Mereka mempersiapkan segala sesuatunya, dari kepastian siapa saja yang akan turut mengiring hingga kesiapan mental mental mereka.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, yang mengiringi tradisi pengambilan api ini adalah cucuk lampah, Kange Yune 2015, Camat Ngasem bersama istri, Kades se Kecamatan Ngasem bersama pasangan, pembawa sesaji, pembawa tumpeng, pembawa songsong, penari / waranggono, punggawa dari kecamatan Ngasem dan 20 pasukan rontek.

Djuli juga menambahkan bahwa yang pertama kali mengambil api adalah dirinya. Kemudian api diserahkan kepada Camat Ngasem yang kemudian diberikan kepada petugas pembawa api, Aiptu Fauzi Wr (50) dan Aipu Wiris Ari Wijaya (37). Mereka berdua akan berlari membawa obor secara estafet dari Balai Desa Ngunut sampai depan Gedung Bakorwil dengan jarak tempuh 17 km.

Aiptu Fauzi mengaku sudah tiga kali bertugas membawa obor api dari Kahyangan Api. “Insya Allah saya tempuh sekitar satu sampai satu jam seperempat. Mohon doa restunya,” katanya kepada BBC.

Fauzi juga menegaskan bahwa tugas itu merupakan sebuah kebanggan tersendiri. Apalagi, katanya, Desember nanti dia berulang tahun yang ke 50. “Modalnya cuma semangat,” ujarnya tertawa.

Aiptu Wiris, yang merupakan partner Aiptu fauzi, menceritakan pengalaman sulitnya saat membawa api. “Ketika obor dipegang di depan, apinya itu kena muka, sehingga terasa panas. Sedangkan bila dibawa di samping, tangan yang pegal. Kalau soal berat sih, masih berat membawa senjata,” jelasnya.(humas)

Comments

comments