Sel. Jun 15th, 2021

Minimalisir Masalah Kamtibmas di Desa, Polres Bojonegoro Bentuk Omah ASTUTI

Bojonegoro – Agunge Sikap Tulung Tinulung (ASTUTI) yang digagas oleh Kapolres Bojonegoro, AKBP EG Pandia, SIK, MM, MH bukan hanya jargon atau pepesan kosong belaka. Sebelumnya ASTUTI digelorakan untuk memberikan bantuan sosial atau Jum’at Berkah kepada kaum dhuafa dan anak yatim, kini jargon tersebut terus bergerak ditengah masyarakat dan menjadikan solusi yang terjadi dikehidupan bermasyarakat di Bumi Angkling Dharma ini.

Kapolres Bojonegoro, AKBP EG Pandia memimpin Rapat Koordinasi optimalisasi Omah ASTUTI sebagai problem solving dalam rangka Mewujudkan Polri Yang Presisi (Prediktif, Responsibilitas, Transparan, dan Berkeadilan). Rapat koordinasi juga diikuti pejabat utama Polres Bojonegoro, para Kapolsek jajaran, Kasi Humas jajaran, bertempat di Aula Satlantas Polres Bojonegoro jalan Imam Bonjol Bojonegoro, Selasa(8/6/2021) pagi tadi.

Kapolres Bojonegoro menyampaikan bahwa dengan adanya omah ASTUTI di tingkat desa dapat menjadi tempat penyelesaian permasalahan di masyarakat. Permasalahan yang terjadi ditengah masyarakat di pandang perlu adanya restorative justice mengutamakan pendekatan dalam penyelesaian perkara atau permasalahan. Omah ASTUTI bisa menjadi solusi yang terbaik bagi masyarakat dan benar-benar mengawal penegakan hukum yang berkeadilan.

“Omah ASTUTI sebagai tempat restorative justice sebagai bentuk penyelesaian permasalahan yang memenuhi rasa keadilan, kita coba formulasikan dengan baik sehingga rasa keadilan betul-betul kita wujudkan,” ujar Kapolres Bojonegoro.

AKBP EG Pandia juga menyampaikan dalam menyelesaikan permasalahan melalui restorative justice atau pendekatan dalam penyelesaian permasalahan di omah ASTUTI harus ada penengah dalam permasalahan tersebut seperti kepala desa, Bhabinkamtibmas, Babinsa, tokoh agama, tokoh masyarakat dan keluarga kedua belah pihak yang bersengketa.

“Dengan adanya omah ASTUTI ini bisa membantu dalam pelaksanaan tugas para Bhabinkamtibmas untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang sifatnya ringan maupun permasalahan sosial sehingga dalam pelaksanaan tersebut akan didampingi oleh Tiga Pilar, tokoh agama, masyarakat penyelesaian permasalahan tersebut, ”tutup AKBP EG Pandia. (waf/humas)

Comments

comments