Rab. Nov 25th, 2020

Pelepah Pisang : Dari Barang Kurang Berharga Menjadi Barang Berharga

Pelepah pisang, yang biasanya dibuang percuma, jika diolah dengan baik mampu menghasilkan berbagai kerajinan tangan yang indah. Aneka produk mampu dibuat dari pelepah pisang. Sehingga produk itu bernilai jual dan menjadi alternatif penghasilan tambahan.
Di tangan Maesir, warga Desa Balenrejo Kecamatan Balen, pelepah pisang disulap menjadi topi, bingkai foto, asbak, tempat tisu, vas bunga (sekaligus bunganya), tempat air minum kemasan gelas, nama meja dan rechel (penyangga al-Qur’an).
Maesir mengaku belum lama menggeluti kreatifitas yang butuh ketelatenan tersebut. “Kira-kira ya belum ada setahun, dulu mewakili disa ikut pelatihan di UPT Bojonegoro. Lalu saya coba bikin dan ternyata ada juga yang mau beli,” katanya.
Ia mengaku proses pembuatan kerajinan dari pelepah pisang cukup gampang. Setelah pelepah pisang yang hendak dibuat mengering, gunting sesuai bentuk yang diinginkan. Jika sudah selesai bisa ditempel hiasan seperti pita, tali dan ornamen yang juga dari pelepah pisang. Setelah itu pada proses finishingnya cukup dilumuri obat pengeras sehingga bisa tahan lama.
“Kalau bikin kerajinan ini, nggak ada barang yang tersisa. Semuanya, bahkan sisa-sisa hasil potongan bisa kita manfaatkan. Misalnya untuk isi tempat air minum ini, biar kuat menyangga barang nantinya,” terang pria yang juga sempat bekerja di Perusahaan Advertising tersebut.
Menurut Maesir saat ini di kampungnya baru dirinya yang mengolah pelepah pisang sebagai kerajinan tangan. Oleh karena itu belum bisa memproduksi secara massal dan melibatkan banyak orang. “Untuk memproduksi secara besar idealnya pengerjaannya bisa dibagi. Ada yang khusus menggarap talinya, memotong pelepah sesuai barang dan finishingnya,” jelasnya.
Beberapa kali ia menyodorkan ide untuk menjadikan produk buatannya menjadi ikon desa setempat melalui Karang Taruna. Hanya saja masih belum bisa terwujud. Ia juga menambahkan beberapa kali Kepala Desa mempromosikan produknya sehingga ia mendapat pesanan dalam jumlah besar.
“Untuk omset belum bisa menghitung. Pemesan souvenir banyak dari Koperasi, sekolah dan pesantren,” katanya.
Soal harga ia mematok mulai dari Rp10.000 hingga Rp75.000. Tergantung tingkat kesulitan dan lama pengerjaan. Selama ini, ia lebih sering melakukan pemasaran dari teman ke teman dengan metode gethok tular. Ia juga kerap kali memajang foto-foto produknya pada media sosial, hingga bisa dikenal secara luas.
“Kalau boleh bermimpi harapannya bisa menjadi salah satu ikon Bojonegoro. Jadi nggak cuma pisangnya yang bisa dibuat ledre tapi pelepahnya juga. Cuma untuk sekarang ini nggak usah jauh-jauh dulu, kalo masyarakat sini, terutama pemuda, bisa ikut memproduksi maka itu sudah bagus,” harap Bapak satu anak itu.
Maesir sangat terbuka jika ada yang datang dan ingin belajar. Katanya selagi ia mampu, ia akan dengan senang hati mengajarkan keterampilannya. (rul)

Comments

comments