Sab. Sep 19th, 2020

Sat Lantas Belum Tetapkan Tersangka Tabrakan Minibus Lawan KA

Tribratanews – Sat Lantas Polres Bojonegoro masih menyelidiki kasus tabrakan mobil minibus yang mengangkut rombongan pengajian tarekat Shadiliyah dengan kereta api barang di palang pintu Kelurahan Jetak, Kota Bojonegoro, pada Minggu (18/10) kemarin. Mobil minibus nopol S 7536 AA itu disopiri oleh Ali Parsim, warga Kecamatan Malo, mengangkut 17 penumpang.

Ia mengakui, saat akan masuk ke perlintasan rel kereta api itu tidak terdengar bunyi sirene dan palang pintu yang diturunkan oleh petugas. Sementara itu, petugas palang pintu, Lilik Purwanto, 38, warga Kelurahan Kadipaten, Kota Bojonegoro, mengaku sudah membunyikan sirine dan menurunkan palang pintu. Namun, mobil minibus sudah terlanjur terjebak di tengah rel kereta api dan akhirnya dihantam oleh kereta api barang nomor CC 2061381 membawa 30 gerbong kosong.

Akibat kejadian itu, tiga nyawa terenggut yaitu Muhammad Chamdan, 47, warga Dusun Petak, Desa Beged RT 07 RW 04, Kecamatan Gayam, Ali Nurhidayat, warga Dusun Bandar, Desa Batokan, Kecamatan Kasiman, dan Suyitno, 55, warga Kelurahan/Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Sementara, puluhan korban lainnya mengalami luka-luka dan menjalani perawatan di Rumah Sakit Bhayangkara Wahyu Tutuko Bojonegoro.

Hingga kini, sopir minibus, Ali Parsim dan penjaga palang pintu kereta api, Lilik Purwanto, masih menjalani pemeriksaan dan diamankan oleh polisi. Polisi juga melakukan olah tempat kejadian perkara, mengumpulkan barang bukti, serta menanyai sejumlah saksi.

Menurut Kasatlantas Polres Bojonegoro, AKP Anggi Saputra Ibrahim SIK SH, sampai saat ini pihaknya belum menetapkan tersangka terkait kasus tabrakan minibus dengan kereta api barang tersebut.

“Kami masih belum menetapkan siapa tersangkanya. Sebab kami masih mengumpulkan alat bukti yang cukup. Sejak kemarin sore kita telah mengamankan sopir elf dan petugas penjaga palang pintu di Satlantas Polres Bonjonegoro, untuk pemeriksaan lebih lanjut,” ujarnya kepada awak media pada Senin (19/10).

AKP Anggi Saputra Ibrahim, SIK, SH, polisi masih mendalami kasus ini. Sebab, kata dia, keterangan yang disampaikan oleh sopir minibus, Ali Parsim, sedikit berbeda dengan keterangan yang disampaikan oleh petugas palang pintu kereta api, Lilik Purwanto.

Menurut Lilik Purwanto, saat kereta api itu akan melintas, ia sudah membunyikan sirine. Sesuai aturan, kata dia, ketika sirine sudah dibunyikan maka pengendara sepeda motor maupun mobil yang akan melintas di perlintasan kereta api wajib berhenti. Namun, kata dia, memang palang pintu saat itu sedikit terlambat diturunkannya.

“Saya sudah membunyikan sirine. Sesuai aturan, seharusnya pengendara sepeda motor maupun mobil berhenti karena kereta api akan lewat,” ujarnya. (waf/humas)

Comments

comments